"SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI KUA KECAMATAN SUKAKARYA KABUPATEN BEKASI * SELAMAT HARI AMAL BAKTI KEMENTERIAN AGAMA KE-66. * MENIKAH DAN TERCATAT RESMI DI KUA LEBIH MENENTERAMKAN"

SISI LAIN "MAY DAY"

Tanggal 1 Mei baru saja berlalu, dengan ditandainya ribuan buruh di seluruh dunia turun ke jalan-jalan memperingati Hari Buruh Sedunia yang lebih dikenal dengan istilah "May Day".
Mengapa tanggal 1 Mei yang dikenal dengan May Day itu menjadi hari buruh internasional? Menurut berbagai catatan, penetapan Hari Buruh pada 1 Mei terkait dengan peristiwa Haymarket yaitu unjuk rasa besar-besaran pekerja di Amerika Serikat, menuntut 8 jam kerja per hari.
Aktor di balik gerakan tersebut adalah Federation of Organized Trades and Labor Union. Tuntutan pengurangan jam kerja itu juga sudah menjadi gerakan dunia antara lain dalam Kongres Buruh Internasional pertama di Jenewa, Swiss.
Pada 1 Mei 1886, ratusan ribu pekerja turun ke jalan untuk mendesak pemberlakuan 8 jam kerja. Pada waktu itu, waktu kerja pekerja bisa sampai dengan 20 jam per hari.
Puncak dari aksi buruh terjadi setelah unjuk rasa berjalan 4 hari. Pada 4 Mei 1886 itulah terjadi kekerasan dari aparat keamanan. Ratusan peserta unjuk rasa tewas. Pimpinan aksi pun ditangkapi polisi.

PELAKSANAAN PRESENSI FINGER PRINT DI KEMENAG KAB. BEKASI

Bekasi, 05/03/2012. Mulai tanggal 1 Maret 2012, Kementerian Agama Kabupaten Bekasi memberlakukan absensi Finger Print. Berlaku untuk semua PNS baik di KUA maupun guru-guru DPK. KUA dijadikan basecamp fingerprint.
Semoga kinerja aparat kemenag kabupaten Bekasi semakin membaik. amin...

SUPERVISI TRIWULANAN KEMENAG BEKASI

Bekasi, 18/01/2012. Bertempat di KUA Kecamatan Karang Bahagia, hari ini Rabu, 18 Januari 2012 dilaksanakan supervisi triwulanan. Supervisi ini diikuti oleh 6 KUA yaitu: KUA Karang Bahagia, KUA Sukatani, KUA Sukakarya, KUA Cabang Bungin, KUA Muara Gembong dan KUA Pebayuran.
Pada kesempatan tersebut hadir Kasi URAIS Kemenag Kabupaten Bekasi Drs. H. Darip Priyatna, M.Pd. beserta analis kepegawaian H. Parno, Analis Keuangan H. Deden, Korlak Kepenghuluan H. Abdul Muthalib serta staf keuangan dan URAIS.
 Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin sebagai ajang mengevaluasi administrasi dan kinerja pegawai KUA. Diharapkan kedepannya KUA sebagai ujung tombak Kementerian Agama akan semakin berkualitas dan profesional. Amin.


  video
video ini menggambarkan betapa seriusnya pembinaan triwulanan. yang nggak siap...ya siap-siap untuk dikoreksi....

PANDUAN PELAKSANAAN HAB KEMENAG KE-66

Dalam rangka pelaksanaan HAB Kemenag ke-66, Kemenag RI memberikan panduan antara lain:
  1. Surat Edaran Tentang HAB Kemenag
  2. Panduan Peringatan HAB
  3. Amanat Menteri Agama
  4. Do'a HAB Kemenag ke-66

Kakanwil : Pejabat harus "Melek" Teknologi Informasi Komunikasi


JL. PELAJAR PEJUANG - BANDUNG
Kakanwil Kemenag Prov. Jawa Barat, H. Saeroji, menghimbau kepada para pejabat yang berada di lingkungan Kementerian Agama untuk "melek" dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Menurutnya, sudah bukan jamannya lagi seorang pejabat tidak mengetahui perkembangan informasi kebijakan Kementerian Agama, karena tidak dapat menggunakan teknologi. Himbauan tersebut disampaikan dalam acara pembukaan Evaluasi Pengelola Teknologi Informasi Komunikasi dan Media Informasi Elektronik Kementerian Agama Pusat dan Daerah 2011 yang diselenggarakan oleh Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama RI di Hotel Horison, Jl. Pelajar Pejuang, Bandung, Senin (05/12).

PEMASANGAN FINGER PRINT TELAH SELESAI

Bekasi, 13/12/2011. Kemarin, Senin, 12-12-2011 pemasangan ke-23 finger print di kantor-kantor KUA se-kabupaten Bekasi sudah selesai. Diharapkan mulai Januari tahun depan, finger print bisa dipergunakan untuk mengganti absen manual. Tentu saja harapan yang paling besar adalah disiplin PNS khususnya di kemenag kabupaten Bekasi bisa ditingkatkan.

MARI SHALAT KHUSUF

Insya-Allah akan terjadi gerhana bulan total (GBT) pada hari Sabtu malam Ahad, tanggal 15 Muharram 1433 / 10 Desember 2011. Dimana peristiwanya diprediksi mulai bisa dilihat jelas sekitar pukul 19.46 WIB. Namun totalitasnya terjadi pukul 21.07 hingga 21.57 WIB, selama 50 menit, dengan puncak gerhana pukul 21.32.
Sebagai salah satu ayat kekuasaan Allah, yang pasti membawa pesan ibrah bagi manusia, tak sepatutnya kita lewatkan peristiwa kauni rabbani ini tanpa tafakkur dan muhasabah.
Secara lebih spesifik, pada saat gerhana seperti ini, disunnahkan agar kita memperbanyak dzikir, takbir, doa, istighfar, sedekah, dan melakukan shalat khusus gerhana, yang dikenal dengan nama shalat al-kusuf atau al-khusuf.
Rasululullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Oleh karenanya, bila kalian melihatnya (gerhana), maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Tata Cara Shalat
Adapun tentang shalat gerhana, maka hukumnya adalah sunnah muakkadah. Diutamakan agar ditunaikan secara berjamaah, namun boleh juga secara sendiri-sendiri.
Shalat kusuf/khusuf dilakukan dengan tanpa adzan dan iqamah. Melainkan diganti dengan ucapan: “Ash-shalatu jami’ah” (tentu ini saat berjamaah). Jumlah rakaatnya 2 rakaat, namun dengan 2 kali berdiri untuk membaca dan 2 kali ruku’ pada setiap rakaatnya. Bacaan dilakukan dengan suara keras (jahri) baik pada shalat gerhana bulan maupun matahari. Dan sesudahnya  dilanjutkan dengan penyampaian khutbah yang mengingatkan akan ibrah dan pelajaran yang harus diambil dari peristiwa penting tersebut.

Dalam hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, beliau menuturkan bahwa, telah terjadi gerhana matahari pada masa hidup Rasululullah SAW. Maka beliaupun keluar ke masjid untuk menunaikan shalat. Lalu beliau bertakbir, sedangkan para sahabat berbaris di belakang beliau. Selanjutnya beliau membaca dengan bacaan yang panjang (Al-Fatihah dan surah lain yang panjang), lalu bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang panjang. Sesudahnya beliau mengangkat kepala beliau (beri’tidal) seraya berucap: “Sami’allahu liman hamidah. Rabbana wa lakal hamdu”. Lalu beliau berdiri kembali dan membaca lagi dengan bacaan yang panjang (Al-Fatihah dan surah lain yang panjang), namun tidak sepanjang bacaan yang pertama. Berikutnya beliau bertakbir dan ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, namun tidak sepanjang ruku’ yang pertama. Setelahnya beliau mengangkat kepala beliau (beri’tidal) seraya membaca: “Sami’allahu liman hamidah. Rabbana wa lakal hamdu”. Seterusnya beliau bersujud (sepeti biasa). Dan pada rakaat kedua beliau juga melakukan seperti yang beliau lakukan pada rakaat pertama. Sehingga (dalam 2 rakaat itu) beliau melakukan secara sempurna 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Dan mataharipun kembali bersinar (gerhana berakhir) sebelum beliau usai. Kemudian beliau berdiri untuk berkhutbah kepada para sahabat, memuji Allah Ta’ala dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya, seraya bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari ayat-ayat kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau kelahirannya. Dan jika kalian melihatnya (gerhana), maka bersegeralah untuk menunaikan shalat” (HR. Muttafaq ‘alaih). Wallahu a’lam.

WARTAWAN: ANTARA DAS SOLLEN DENGAN DAS SEIN

(Bekasi, 21/11/2011) Pada dasarnya profesi wartawan adalah profesi yang mulia. Bahkan anak-anak muda yang baru lulus sarjana berebut untuk menjadi kuli tinta di berbagai media massa yang bersifat lokal ataupun nasional. Harapannya jelas yaitu profesi wartawan adalah profesi yang idealis, masih bisa menampung dealisme kaum intelektual muda.
Tetapi, ketika diamati didaerah-daerah ternyata ironis. Profesi wartawan digunakan oleh oknum wartawan hanya sebagai kedok untuk mendapatkan uang secara instan. Bahkan kalau dilihat, latar belakang pendidikannya pun tidak memenuhi syarat. Kemampuan menggoreskan pena pun masih dipertanyakan. Yang penting berani berbicara. Sungguh ironis dan menyedihkan.
Muhaimin Lutfie pernah berpesan sewaktu beliau masih sebagai kakanwil kanmenag jabar bahwa para pejabat kemenag jangan alergi terhadap wartawan. Hal itu ditujukan agar para pejabat tidak menghindari wartawan, seolah-olah wartawan adalah musuh yang harus dihindari. Padahal wartawan yang "sejati" adalah mitra kerja sebagai pengontrol kebijakan.
Harapannya wartawan kembali kepada profesionalisme yang menjunjung tinggi idealisme agar fungsi contolling bisa berjalan dengan baik. Semoga...